• mt-0189-slider1.jpg

Home > Media > News & Event

NEWS & EVENT

TP Rachmat: Saatnya Give Back to the Nation

Date: 18 Oct 17

 

Rektor ITB Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi (kiri) menerima komitmen dukungan dunia usaha untuk pengembangan kampus ITB dari founder Triputra Group TP Rachmat (kanan) disaksikan Ketua Majelis Wali Amanat ITB Betti Alisjahbana (tengah), Sabtu 14 Oktober 2017. TP Rachmat sebagai salah satu donatur memberikan bantuan sebesar Rp 50 miliar yang akan digunakan untuk pembangunan fasilitas pendidikan, riset, inovasi dan "endownment fund".

 

Disadur dari tulisan yang dimuat pada BeritaSatu.com http://www.beritasatu.com/nasional/458204-tp-rachmat-saatnya-give-back-to-the-nation.html

Oleh: Primus Dorimulu / AB | Senin, 16 Oktober 2017 | 06:22 WIB

 

Bandung - Pengusaha nasional Theodore Permadi (TP) Rachmat mengimbau para pengusaha dan semua warga Indonesia yang sukses secara finansial untuk membantu pendidikan di Indonesia. Setiap warga negara yang beruntung mempunyai tanggung jawab untuk membantu sesama yang kurang beruntung, antara lain lewat pendidikan. Pendidikan sangat penting dalam meningkatkan taraf hidup dan peradaban masyarakat. Namun, pendidikan membutuhkan dana besar dan tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan karena masalah ekonomi.

 

"Kita tidak bisa hanya berpangku tangan atau sekadar urun angan, melainkan mari turun tangan, membantu pendidikan. Ini tanggung jawab kita, warga negara yang telah diberi begitu banyak kesempatan oleh Indonesia. Perlu kita ingat, bahwa kita menjadi seperti ini, juga karena Indonesia memberikan kesempatan kepada kita. Saatnya untuk give back to this nation," ungkap founder Triputra Group TP Rachmat pada acara "ITB Fund Raising" di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Sabtu (14/10). Acara ini dihadiri Rektor ITB Kadarsah Suryadi, para anggota kehormatan Majelis Wali Amanat ITB, mantan Wapres Boediono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo, Ketua Majelis Wali Amanat ITB Betti Alisjahbana, Yani Panigoro, Martha Tilaar, Putra Masagung, Dato Sri Tahir, dan Eddy Sariaatmadja.

 

Kehidupan nyata, kata TP Rachmat, menampilkan kondisi kontras. Ada orang yang membeli mobil sport atau bahkan private jet dan mengeluarkan uang sampai belasan miliar. Ada orang yang punya puluhan rumah, vila, dan sebagainya. Ada orang yang menghabiskan biaya ratusan juta hanya untuk perayaan ulang tahun anaknya. Di sisi lain, ada orang yang berjuang hanya sekadar untuk makan tanpa gizi cukup. Ada juga orang yang harus berjalan belasan kilometer untuk sekolah.

 

Dari sejarah bangsa-bangsa, kata TP Rachmat, dapat dipelajari bahwa pendidikan memegang peranan penting agar bangsa dapat tumbuh dan berkembang. Pendidikan merupakan hak setiap orang. Tetapi, tidak semua orang beruntung bisa menempuh pendidikan karena alasan ekonomi. Oleh karena itu, semua warga negara yang beruntung harus membantu pendidikan. Masalah pendidikan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab semua orang.

 

"Terlebih kita, warga negara yang lebih beruntung daripada sebagian besar penduduk Indonesia," kata TP Rachmat.

 

Pendidikan yang dikembangkan di Indonesia hendaknya pendidikan yang berimbang. Pendidikan di sekolah tidak hanya mengutamakan ilmu pengetahuan, namun juga pendidikan karakter. Pendidikan dan wawasan penting agar negara menghasilkan generasi baru yang cerdas, kreatif, dan cermat mengolah peluang menjadi usaha-usaha baru yang membuka lapangan kerja dan memperkokoh ekonomi bangsa. Tetapi, tanpa memperhatikan aspek karakter, pendidikan tidak menghasilkan generasi bermutu. Begitu banyak bukti, bahwa bangsa ini kadang kehabisan energi untuk menyikapi masalah-masalah yang muncul karena kurangnya wawasan dan karakter.

 

"Tuhan memberikan begitu banyak kepada saya, dan saya menjadi orang yang beruntung. Beruntung karena memiliki kekuatan yang lebih dibanding kebanyakan orang. Namun dalam kekuatan yang lebih besar itu terkandung tanggung jawab yang besar juga. Greater power comes with greater responsibility," ungkap mantan presdir PT Astra International Tbk itu.

 

TP Rachmat mengajak semua orang yang beruntung untuk memperkuat endowment fund ITB agar kampus ini dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menjadi bagian yang terus memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Kampus ITB, sebagaimana kampus lain di Indonesia, diharapkan lebih baik lagi dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas.

 

Hidup memberikan kepada manusia begitu banyak pilihan dan manusia diberi kebebasan untuk memilih. Tetapi, dalam kata bebas, terkandung tanggung jawab. Kebebasan tanpa tanggung jawab akan membuat manusia menjadi liar, tanpa arah, dan kehilangan banyak kesempatan.

 

Pengalaman, lanjut TP Rachmat, mengajarkan dirinya untuk bertanggung jawab kepada keluarga, perusahaan, dan bangsa.

 

"Wujud tanggung jawab saya kepada bangsa, adalah melakukan berbagai hal, semampu saya untuk turut serta membangun pola pikir dan values bagi generasi penerus, sehingga cita-cita luhur bangsa Indonesia menjadi bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera itu menjadi kenyataan," paparnya.

 

TP Rachmat pun menyebut Iman Usman dan Belva Devara, pendiri layanan ruang guru. Mereka adalah dua anak muda yang patut dijadikan inspirasi. Iman lahir dari keluarga sederhana di Padang. Ayah-ibunya bukan termasuk orang yang beruntung yang dapat merasakan pendidikan hingga jenjang universitas. Namun keduanya percaya, pendidikan dapat memberikan penghidupan lebih baik bagi anak-anaknya. Iman mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia dan melanjutkan di Columbia University.

 

Belva merupakan lulusan S-1 Universitas Nanyang serta S-2 Standford dan Harvard University. Keduanya membangun ruang guru yang sekarang ini nilainya mencapai US$ 20 juta.

 

The World University Ranking 2017 memosisikan ITB pada peringkat 816 dan Universitas Indonesia pada peringkat 861.

 

"Kenyataan itu membuatnya saya merenung dan berpikir, apa yang membuat universitas-universitas terbaik di Indonesia tidak mampu bersaing untuk menempati peringkat yang lebih baik dan sejajar dengan universitas global lainnya," ujarnya.

 

Sepuluh besar universitas yang masuk dalam The World University Ranking 2017, di antaranya adalah Harvard University, Standford University, dan Princeton University. Salah satu sukses Harvard University adalah endowment fund yang mencapai US$ 37 miliar per tahun. Contoh lain, endowment fund Standford dan Princeton, masing-masing US$ 25 miliar. "Sedangkan endowment fund di ITB hanya…" kata TP Rachmat.

Address

Menara Kadin Indonesia Lt. 23

Jl. H.R. Rasuna Said Kav 2 & 3

Jakarta 12950

Indonesia

Contact Us

Telp: +6221 527 4323

Fax: +6221 527 4743

Follow Us